DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................... i
A.
Pengertian Berpikir dan Ingatan................................................................... 3
1.
Pengertian Berpikir...................................................................................... 3
2.
Pengertian Ingatan....................................................................................... 4
B.
Proses Berpikir dan Ingatan .......................................................................... 4
1.
Proses Berpikir ............................................................................................ 4
2.
Proses Ingatan.............................................................................................. 6
C.
Jenis-jenis Berpikir dan Ingatan.................................................................... 7
1.
Jenis-jenis Berpikir....................................................................................... 7
2.
Jenis-jenis Ingatan........................................................................................ 9
D.
Faktor-faktor Penghambat Berpikir dan
Ingatan...................................... 10
1.
Faktor Penghambat Berpikir...................................................................... 10
2.
Faktor Penunjang dan Penghambat Ingatan.............................................. 11
E.
Gangguan Berpikir dan Ingatan.................................................................. 12
1.
Gangguan Berpikir..................................................................................... 12
2.
Gangguan Ingatan..................................................................................... 14
F.
Contoh Kasus Berpikir dan
Ingatan............................................................ 17
1.
Contoh Kasus Berpikir.............................................................................. 17
2.
Contoh Kasus ........................................................................................... 17
G.
Pembahasan Lainnya.................................................................................... 18
Daftar Pustaka
BAB
I
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Berpikir
dan Ingatan
1.
Pengertian
Berpikir
Arti kata dasar “pikir” dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2010: 767) adalah akal budi, ingatan, angan-angan.
“Berpikir” artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan
sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan (Wowo, 2013: 01).
Sedangkan dalam sastra Arab
disebutkan bahwa kata berpikir(fakara) adalah kalimat terbalik dari faraka yang
artinya menggosok-gosok. Jadi, berpikir itu bagaikan orang yang menggosok-gosok
dan mencari-cari sesuatu agar diketahui hakikatnya (Achmad, 2008: 124)
Berpikir adalah satu kegiatan yang
melibatkan penggunaan konsep dan lambang sebagai pengganti obyek dan peristiwa.
Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan
menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan
yang tampak. (Achmad, 2008 hal. 124)
Berpikir juga dapat diartikan
sebagai akumulasi dari proses sensasi, asosiasi, persepsi, dan memori yang
dikeluarkan untuk mengambil keputusan.(Nina, 2011: 5).
Terdapat beberapa macam pendapat
mengenai pengertian berpikir, diantaranya ada yang menganggap berpikir sebagai
suatu proses asosiasi saja, ada pula yang memandang berpikir sebagai proses
penguatan hubungan antara stimulus dan respons, ada yang mengemukakan bahwa
berpikir itu merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua
objek atau lebih. Selain itu terdapat pula pendapat para ahli mengenai berfikir
diantaranya:
a.
Philip L.
Harriman mengungkapkan, bahwa berpikir(thinking)adalah istilah yang sangat luas
dengan berbagai definisi misalnya, angan-angan, pertimbangan, kreativitas,
tingkah laku seperti jika (as if, vaihinger), pembicaraa yang lengkap,
aktivitas idaman, pemecahan masalah, penentuan, perencanaan, dan sebagainya,
aktivitas dalam menanggapi suatu situasi yang tidak objektif yang menyerang
organ panca indra.
b.
“Berpikir
merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dnegan menggunakan
lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak,”
kata Floyd L. Ruch dalam bukunya yang klasik, Psychology and Life
(1967). (Abdul, 2009: 225).
c.
Secara singkat
Anita Taylor mendefinisikan berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan
(thinking is an inferring process) (Taylor et. Al., 1977: 55). (Nina, 2011: 5).
2.
Pengertian
Ingatan
Ingatan (memory) ialah kekuatan jiwa
untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan. Ada 3 unsur dalam
perbuatan ingatan, ialah menerima kesan-kesan, menyimpan dan mereproduksikan.
Adapun definisi ingatan menurut beberapa ahli:
a.
Ingatan adalah
setiap ungkapan, dalam mana kaitan psikis dimanifestasikan dalam dimensi waktu
(kohnstamn).
b.
Ingatan adalah
kaitan masa lampau dari pengalaman (W. Stern). (Kartini, 2010: 107)
Mengingat adalah perbuatan menyimpan
hal-hal yang sudah pernah diketahui untuk dikeluarkan dan pada saat lain
digunakan kembali. Pendapat lain menyatakan ingatan adalah simpanan pola dari
sambungan-sambungan antara neuron-neuron di otak. Oleh karena itu, tanpa
ingatan hampir tidak mungkin seseorang mempelajari sesuatu. (Sarlito, 2013: 115).
B.
Proses Berpikir
dan Ingatan
1.
Proses Berpikir
Dalam berpikir seseorang tentunya
melalu beberapa proses. Diantaranya:
a.
Pembentukan
Pengertian
Yang dimaksud dengan pengertian
ialah himpunan ciri-ciri hakiki atau sifat yang khas dari sesuatu yang lain.
Pengertian diperoleh berdasarkan pengalaman, atau dengan jalan berpikir.
Akal berusaha mencari sejumlah ciri
pokok dari sekumpulan objek-objek tersebut, sehingga terpisah dari ciri-ciri
objek selainnya yang tidak perlu dan tidak mesti ada. Misalnya, binatang
bertulang belakang, Apa-apa yang menjadi ciri binatang bertulang belakang
dikumpulkan, yang bukan dipisahkan, tidak dimasukkan.
b.
Pembentukan
Pendapat
Pendapat dibentuk dari dua
pengertian atau lebih yang merupakan hasil dari perbuatan pikiran yang
mengandung hubungan arti. Misalnya, kita menyatakan: “Rumah yang baru itu
indah” Pendapat semacam ini disebut pendapat yang positif. Sebaliknya “Rumah
itu jelek” pendapat ini disebut pendapat yang negatif.
Ada juga kriteria lain, “pendapat
modalitet”, yaitu pendapat yang menyatakan kemungkinan, dan keraguan tentang
sesuatu unsur dari sesuatu. Misalnya, Si A mungkin orang yang jujur, mungkin
juga penipu.
Setiap pendapat dinyatakan dengan
bahasa dalam bentuk kalimat yang terdiri atas:
a)
Subjek (pokok
kalimat), suatu pengertian yang diterangkan.
b)
Predikat
(sebutan kalimat), suatu pengertian yang menerangkat.
c.
Pembentukan
keputusan
Menurut
terjadinya ada tiga macam keputusan, yaitu:
a)
Keputusan dari
pengalaman-pengalaman, misalnya:
1)
Kemarin paman
duduk dikursi yang panjang.
2)
Mesjid di Kota
Kami di sebelah barat alun-alun.
b)
Keputusan dari
tanggapan-tanggapan, misalnya:
1)
Anjing Kami
menggigit seorang kusir.
2)
Sepeda saya
sudah tua, dan lain-lain.
c)
Keputusan dari
pengertian-pengertian, misalnya:
1)
Berdusta adalah
tidak baik.
2)
Bunga itu
indah, dan lain-lain.
d.
Pembentukan
kesimpulan
Tujuan dari berpikir ialah mencari
pemecahan-pemecahan masalah yang dihadapi. Berdasarkan data-data yang didapatkan,
maka ditarik kesimpulan sebagai pendapat yang akhir berdasarkan data-data atau
pendapat yang mendahuluinya.
Jadi pembentukan kesimpulan adalah membentuk
suatu pendapat berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada.
Untuk menarik kesimpulan dapat
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
a)
Atas dasar
analogi
Kesimpulan atas dasar analogi, yaitu
kesimpulan yang diambil dengan cara mengkiaskan atau menyamakan antara sesuatu
dengan yang lain berdasarkan pertimbangan hal/kejadian-kejadian yang sama yang
terjadi sebelumnya.
b)
Secara induktif
Kesimpulan yang diambil secara
induktif, yaitu kesimpulan yang diambil berdasarkan hal-hal atau peristiwa-peristiwa
yang sama, kemudian diambil sifat-sifatnya yang berlaku umum bagi hal-hal atau
peristiwa-peristiwa.
c)
Secara deduktif
Kesimpulan ini diambil dari konsep
yang bersifat umum untuk hal-hal yang bersifat khusus. (Dedeh, 2015: 93)
Proses berpikir dalam memecahkan
masalah:
a.
Ada minat untuk
memecahkan masalah.
b.
Memahami tujuan
pemecahan masalah itu.
c.
Mencari
kemungkinan-kemungkinan pemeahan.
d.
Menentukan
kemungkinan mana yang digunakan.
e.
Melaksanakan
kemungkinan yang dipilih utnuk memecahkan masalah. (Abu, 2009: 163).
2.
Proses Ingatan
Ada tiga momen
ingatan:
a.
Momen mencamkan
Menurut
terjadinya, mencamkan itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a)
Mencamkan yang
sekehendak, dan
b)
Mencamkan yang
tidak sekehendak.
Mencamkan yang tidak sekehendak atau
tidak disengaja itu artinya dengan tidak dikehendaki, tidak disengaja,
memperoleh sesuatu pengetahuan. Sedangkan mencamkan dengan sekehendak atau
dengan sengaja artinya mencamkan dengan sengaja dan dikehendaki; dengan sadar
sungguh-sungguh mencamkan sesuatu(menghafal).
b.
Momen menyimpan
Setalah kita selesai mencamkan,
banyak sekali hal-hal yang kita lupakan, tetapi lebih kemudian yang kita
lupakan lagi makin lama makin sedikit. Maka bahan yang ingin kita ingat dengan
baik, haruslah terus-menerus kita ulangi; dan untuk keperluan ini tentu saja
kita harus membagi-bagi waktu belajar secara baik.
c.
Momen
mereproduksi. (Patty, 1982: 107)
Reproduksi adalah pengaktifan
kembali hal-hal yang telah dicamkan. Dalam reproduksi ada dua bentuk, yaitu:
a)
Mengingat
kembali (recall), dan
b)
Mengenal
kembali (recognition).
d.
Asosiasi
Asosisi adalah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan
lainnya dalam jiwa. Menurut para ahli psikologi asosiasi antara
tanggapan-tanggapan itu ada semacam kekuatan halus yang menyebabkan bahwa bila
salah satu dari tanggapan itu masuk ke dalam kesadaran, maka tanggapan itu
“memanggil” tanggapan yang lain dan membawanya ke dalam kesadaran.
Sudah semenjak Aristoteles telah dicoba dirumuskan hukum-hukum
asosiasi, yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh sederetan ahli-ahli
yang lebih kemudian. Adapun hukum-hukum asosiaso itu adalah a) hukum sama saat,
b) hukum berurutan, c) hukum kesamaan, d) hukum berlawanan, dan e) hukum sebab
akibat. (Sumadi, 2010: 45).
C.
Jenis/macam
Berpikir dan Ingatan
1.
Jenis/Macam
Berpikir
Secara garis besar ada dua macam
berpikir: berpikir autistik dan berpikir realistik (Rahmat, 1994: 69)
a.
Berpikir
autistik, yaitu dengan melamun, berfantasi, menghayalkan, dan wishful
thinking. Dengan berpikir autistik, orang melarikan dan dari kenyataan
melihat hidup sebagai gambar-gambar.
b.
Berpikir
realistik, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam
rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. (Nina, 2011: 5)
Floyd
L. Ruch (1967) menyebut tiga macam berpikir realistik:
a)
Berpikir
Deduktif
Deduktif merupakan sifat deduksi.
Kata deduksi berasal dari kata Latin deducere (de berarti ‘dari’, dan kata
ducere berarti ‘mengantar’, ‘memimpin’). Dengan demikian, kata deduksi yang
diturunkan dari kata itu berarti ‘mengantar dari suatu hal ke hal lain’.
Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan proses berpikir
(penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru
yang berbentuk suatu kesimpulan (Keraf. 1994:57). Contoh: Semua manusia akan
mati (kesimpulan umum)
Socrates
adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jadi,
Socrates akan mati (kesimpulan deduksi)
b)
Berpikir
induktif
Induksi adalah proses berpikir yang
bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu
kesimpulan(inferensi). Jadi, berpikir induktif ialah menarik suatu kesimpulan
umum dari berbagai kejadian(data) yang ada di sekitarnya. Contoh: Seorang guru
mengadakan eksperimen-eksperimen menanam biji-bijian bersama murid-muridnya;
tumbuhnya ke atas pula; kacang merah ditanam dengan mata lembaganya di sebelah
bawah, tumbuhnya ke atas pula; biji-biji yang lain demikian pula.
Kesimpulannya: semua batang tanaman tumbuhnya ke atas mencari sinar matahari.
c)
Berpikir
evaluatif
Berpikir evaluatif adalahh berpikir
kritis, menilai baik-uruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir
evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut
kriteria tertentu(Rakhmat, 1994). (Alex, 2003 Hal.214)
Dalam buku lain terdapat empat macam
berpikir realistik:
a)
Berpikir
Deduktif
b)
Berpikir
Induktif
c)
Berpikir
evaluatif
d)
Berpikir
Analogi
Yaitu berpikir
kira-kira, yang didasarkan pada pengenalan kesamaan. Umumnya orang menggunakan
perbandingan atau kontras. Robert J. Sternberg psikologi dari Yale, meneliti penggunaan
analogi ini Sternberg, 1977). Ia menulis, “kita berpikir secara analogis setiap
kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalam pengalaman kita,
dengan menghubungkannya pada suatu yang sama pada masa lalu kita.” Lucunya,
berpikir analogi yang tidak logis itu paling sering kita gunakan untuk
menetapkan keputusan, memecahkan soal, dan melahirkan gagasan baru. (Abdul, 2009:
231).
2.
Macam/Jenis
Ingatan
a.
Ingatan yang
cepat dan mudah; artinya seseorang dapat dengan mudah dalam menerima kesankesan,
misalnya: ada orang yang dengan cepat dapat mengingat baik-baik suatu lagu dan
ada pula yang lambat.
b.
Ingatan yang
luas, artinya; dalam sekaligus sesorang dapat menerima banyak kesan-kesan dan
dalam daerah yang luas.
c.
Ingatan yang
teguh, artinya; kesan yang telah diterimanya itu tetap tidak berubah, melainkan
tetap sebagaimana pada waktu menerimanya.
d.
Ingatan yang
setia, artinya; kesan yang telah diterimanya itu tetap tidak berubah, melainkan
tetap sebagaiman pada waktu menerimanya.
e.
Ingatan
mengabdi atau patuh, berarti; bahwa kesan yang pernah dicamkan dapat dengan
mudah direproduksikan secara lancar. (Mahfudz, 1991 Hal.92)
Sistem yang dibangun
untuk ingatan agar sebuah informasi tetap diingat adalah melalui:
a)
Ingatan sensori
Yaitu tempat sementara
penyimpanan informasi. Pada bagian ini modalitas dari sensori individu amatlah
penting, dari pancaindera, yang bisaberupa visual atau pendengaran dan segera
masuk ke dalam bagian khusus korteks (Foer, 2007). Bersifat sangat sebentar dan
cepat. Daya simpannya hanya sekitar satu detik( Feldman, 2003). Informasi yang
disimpan oleh individu sangat tinggi.
b)
Ingatan jangka
pendek
Dibagian ini ingatan
dapat bertahan selama 15-25 detik (Feldman, 2003). Kapasitanya terbatas,
sekitar lima sampai sembilan unti informasi, sering disebut
“seven-plus-orminus-two”.
c)
Ingatan jangka
panjang
Penyimpanan informasi
relatif permanen, walaupun terkadang sulit untuk dikeluarkan kembali( Feldman,
20013). Kapasitasnya nyari tak terbatas. Kapasitasnya yang luar biasa inilah
yang kemudian menyimpan banyak hal yang umumnya berupa fakta-fakta dan
peristiwa-peristiwa, kebiasaan, ingaan, dan emosi (Foer, 2007). (Sarlito, 2013:
116)
D.
Faktor-Faktor
Penghambat Berpikir dan Ingatan
1.
Faktor
Penghambat Berpikir
Hambatan-hambatan yang mungkin
timbul dalam proses berpikir dapat disebabkan, antara lain:
a.
Data yang ada
kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang harus diperoleh;
b.
Data yang ada
dalam keadaan “confuse”, data yang satu bertentangan dengan data yang lain,
sehingga keadaan itu akan membingungkan dalam proses berpikir. Kekurangan fakta
dan kurang jelasnya fakta akan menjadikan hambatan bagi orang dalam berpikir,
lebih-lebih kalau datanya satu sama lain saling bertentangan. (Dedeh, 2015: 101)
Utsman Najati pun membahas mengenai
faktor-faktor yang menghambat berpikir. Menurutnya, Al-Qur’an juga mengemukakan
faktor penting yang menghambat pemikiran, yang membuatnya statis dan
menghalanginya dari pengetahuan realitas yang sebenernya dan membuat penilaia-penilaian
yang benar mengenai hal yang dihadapinya. Faktor-faktor tersebut adalah:
a)
Berpegang Teguh
pada Pikiran-pikiran Lama.
Hal ini dapat
diperlihatkan dalam:
1)
QS. Yunus
(10):78
2)
QS. Az-Zukhruf
(43)
3)
QS. Al-Maidah
(5): 104
4)
QS. Al- Baqarah
(2): 170
5)
QS. Al-A’raf
(7): 70
6)
QS. Saba’ (34): 43
b)
Tidak Cukup
Data yang Ada
Hal ini pun
dapat diperhatikan pada:
1)
QS. Al-Isra
(17): 36
2)
QS. Al-Hajj
(22): 3&8
3)
QS. Al-Mu;min
(40): 35&56
c)
Sikap Memihak
yang Emosional dan Apriori
Mengenai hal
ini Al-Qur’an mengungkapkan:
1)
QS. Al-Qashash
(28): 50
2)
QS. Shad (38):
26
3)
QS. An-Nisa
(4): 136
4)
QS. Al-Jatsiyah
(45): 23
5)
QS. An-Najm
(53): 23
6)
QS. Ar-Rum
(30): 29 (Abdul, 2009: 245).
2.
Faktor
Penghambat Ingatan
Ada faktor-faktor yang ternyata
mempengaruhi daya kerja ingat antara lain:
a.
Faktor usia,
ingatan yang paling tajam pada diri manusia kurang lebih pada masa kanak-kanak
(10-14 tahun) dan ini berlaku untuk ingatan yang bersifat mekanis yakni ingatan
untuk kesan-kesan penginderaan. Sesudah usia tersebut, kemampuan untuk
mencamkan dalam ingatan juga dapat dipertinggi akan tetapi untuk kesan-kesan
yang mengandung pengertian (daya ingat logis) dan ini berlangsung antara usia
15-50 tahun.
b.
Kondisi fisik,
misalnya kelelahan, sakit, dan kurang tidur dapat menurunkan daya kerja atau
prestasi ingatan.
c.
Faktor emosi,
dalam hal ini seseorang akan mengingat sesuatu lebih baik apabila
peristiwa-peristiwa itu menyentuh perasaan-perasaan sedangkan kejadian yang
tidak menyentuh emosi seringkali diabaikan.
d.
Minat dan
Motivasi, dalam pengalaman sehari-hari, kita sering mengamati remaja yang tidak
lupa suatu lirik lagu walaupun dalam bahasa asing. Orang yang sering bepergian,
mempunyai ingatan tentang ilmu bumi yang jauh lebih baik daripada yang tidak
pernah kemana-mana. Artinya disini seseorang yang mengingat segala sesuatu
tentang hal yang disukainya jauh lebih baik dari pada hal yang tidak
disukainya. Jelaslah minat sangat meningkatkan motivasi dan pada gilirannya
akan meningkatkan daya ingat.
E.
Gangguan
Berpikir dan Ingatan
1.
Gangguan dalam
Berpikir
a.
Kelambatan Daya
Pikir: Bradyfreni
Pada peristiwa gangguan pikiran
bradyfreni, arus-arus pikiran-pikiran bisa jadi lamban/lambat. Kelambanan itu
jugaa bisa berlangsung pada peristiwa amnetis dan cedara otak. Keadaan amnetis
adalah keadaan pasien yang tengah mengalami defek-defek ingatan(kehilangan
ingatan). Reaksi orang yang bersangkutan menjadi sangat lambat, dan dengan
susah payah dia akan menjawab pertanyaan orang lain.
Pasien terus melekat pada suatu
masalah atau satu tema; kemudian berputar-putar pada masalahnya, tanpa bisa
memahami maknanya, juga tanpa bisa memecahkannya. Peristiwa ini disebut
perseverasi (bertahan, terus melekat). Sedang apabila pikiran itu terus-menerus
melingkar dan semakin jauh dari realitas nyata, maka kejadian ini disebut
berpikir divergent; yaiu berpikir semakin lama semakin melebar dan menjauh.
Selanjutnya, kelambatan berpikir
juga bisa disebabkan oleh: adanya semacam rem-rem psikis; misalnya oleh rasa
malu, rendah diri dan kecemasan. Dalam kondisi sedemikia, arus pikiran jadi terhambat
atau terhalang-halangi; khususnya terhambat oleh suasana hati yang depresif dan
kemurungan yang abnormal.
b.
Percepatan pada
pikiran
Pada peristiwa mani-mani, kondisi
panas hati, dan pasien menjadi sangat gelisah serta bingung, pikiran bisa
dipercepat. Pasien ingin bercerita sebanyak-banyaknya, sehingga dia tidak mampu
menyelesaikan pikiran sendiri. Kadangkala terputus rangkaian kalimat dan
pengertiannya, sehingga si penderita tampak sangat kalut-kusut dalam cara
berpikirnya.
Pikiran sering juga meloncat-loncat
dengan amat cepat, namun tanpa arah. Bahkan pikiran yang satu membentur pikran
lainnay, sebab tidak cocok satu sama lain. Pikirannya tentang cepat seperti
diburu-buru. Pasien yang menderita manis dan sangat panas hatinya, sering
menyatakan bahwa kehidupan batinnya snagat liar, lepas lari berlarat-larat, dan
ganas menggelora, bagaikan percepatan rim, tanpa bisa dikendalikan.
c.
Terputusnya
pikiran
Terputus atau terpotongnya pikiran
itu bisa disebabkan oleh: 1) obsesi psikis, 2) gejala epilepsi (ayan), atau 3)
hilangnya kesadaran dalam waktu singkat. Pada, beberapa penderita psikotis,
arus pikiran secara tiba-tiba bisa terpotong putus, tanpa adanya penurunan atau
hilangnya kesadaran. Peristiwa sedemikian ini disebut: sperrung atau
penyekatan-pikiran. Sekatan dalam hal ini affek-afek yang kuat. Tiba-tiba saja
si pasien tidak bisa meneruskan pikiran dan bicaranya.
Peristiwa “sperrung” ini mirip
sekali dengan peristiwa terputusnyasceara tiba-tiba kesanggupan berbicara
karena rasa malu, tersipu-sipu, atau tersinggung perasaan oleh sesuatu yang
menyakitkan hati. Juga oleh usaha pendesakan dari pikiran-pikiran da
perasaan-perasaan yang kurang pantas kedalam ketidaksadaran. Disamping itu,
para penderita yang kehilangan inisiatif, dan mereka yang dengan tiba-tiba
tidak sudi melanjutkan komunikasinya dengan orang lain, mengalami peristiwa
“sperrung” tersebut.
d.
Inkorberensi
pada Kemampuan Berpikir
Pikiran menjadi kusut-masai, apabila
pasien terganggu fungsi kesadarannya. Dan pikiran disebut inkroherent atau tidak
runtun apabila kesadarannya jelas-jernih, namun kaitan/hubungan diantara
onderdil-onderdil atau bagian-bagian dari pikiran tersebut tidak ada, dan
terputus-putus keadaannya.
Maka keteraturan/orde dalam berpikir
itu bisa berlangsung apabila pikiran dan tanggapan-tanggpan tersebut selalu
mengandung relasi-relasi: 1) waktu, 2) tempat, 3) kausal atau sebab-musabab,
dan 4) final atau mengarah pada tujuan tertentu. (Kartini, 2010: 84)
e.
Oligeprenia: tuna kecerdasan (oliges = sedikit; phren = jiwa,
pikiran). Penderita oligeprenia seolah-olah dilahirkan dengan bekal yang
terbatas, dan perkembangan inteleknya pun terbatas pula.
f.
Idiola: ketunaan yang terberat, terdapat tanda-tanda tidak ada kemampuan
memenuhi hidup sendiri, sukar mengembangkan diri.
g.
Imbesila: dungu, lebih ringan daripada idiot. Orang yang imbesila sudah
dapat mandi sendiri, makan sendiri, hanya tingkat perkembangannya terbatas.
h.
Debilita: tolol, moron, lemah kemampuan. Kemampuannya mendekati ornag yang
normal, namun taraf kemajuan yang dapat dicapai masih sangat terbatas.
i.
Demensia: mula-mula penderita mengalami perkembangan normal, tetapi sesuatu
sebab perkembangannya terhenti dan mengalami kemunduran yang mencolok.
j.
Delusia: (keadaan yang menunjukkan gagasan yang ilusif). Delusia sangat
erat hubungannya dengan gejala ilusi. Penderita mempunyai keyakinan yang kuat
tentang sesuatu, tetapi tidak menurut kenyataan.
k.
Obsesia: (obsessio=pengepungan). Penderita seolah-olah dikepung atau
dicengkeram oleh pikiran-pikiran tertentu yang tidak masuk akal(tidak logis).
Makin besar usaha untuk melepaskan diri, makin besar pula gangguan pikiran yang
mencengkeram. (Abu, 2009: 185).
2.
Gangguan pada
Ingatan
a.
Amnesia
Amnesia ialah: hilangnya ingatan, yang bisa berlangsung dalam waktu
pendek, maupun berlanjut kepanjangan; khususnya hal ini menyangkut ide-ide yang
harus diungkapkan dengan kata-kata. Amnesia juga bisa berlangsung definitif,
secara tetap, dan hilang untuk selama-lamanya. Sifatnya bisa sebagian/persial
saja yang hilang dari ingatan; akan tetapi bisa juga bersifat total, yaitu
seluruh kesadaran masa lampau hilang sama sekali, atau terganggu secara total,
dan tidak dapat diingat kembali. Kadangkala amensia itu bisa berlangsung secara
periodik atau berkala. Pada peristiwa gagar otak (commotio cerebri) dan
cedera pada otak, amnesia sering terjadi.
Beberapa tipe amnesia dapat kita sebutkan, yaitu:
a)
Amnesia
retrograde (Retrograde = mundur):
hilangnya ingatan mengenai kejadian dan segenap hal-ihwal yang mendahului suatu
kecelakaan. Semua kesan masa lalu, sebelum terjadinya kecelakaan. Semua kesan
masa lalu, sebelum terjadinya kecelakaan, jadi hilang; biasanya berlangsung
pendek.
b)
Amnesia
anterograde: hilangnya
ingatan mengenai peristiwa-peristiwa segera sesudah kecelakaan terjadi; yaitu
sesudah terjadi shock, gegar otak atau saat yang membingungkan.
c)
Amnesia
auditore: ketidakmampuan mengenal kembali
kata-kata yang diucapkan orang lain. Disebut pula sebagai tuli-kata.
d)
Amnesia
retroantergrade: pemutarbalikan
ingatan, dalam mana kejadian-kejadian yang baru berlangsung dikaitkan dengan
masa lampau; sedang peristiwa-peristiwa lama dikaitkan dengan waktu sekarang.
e)
Amnesia
tactile: ketidakmampuan mengenal kembali
objek-objek mlalu rabaan. Disebut pula sebagai astereognosis atau astereocognosy.
f)
Amnesia visual: buta-kata; yaitu ketidakmampuan mengingat kembali
perkataan-perkataan yang tertulis atau terucapkan, atau objek-objek yang pernah
dilihat sebelumnya.
b.
Hambatan pada
Reproduksi
Reproduksi dari tanggapan ialah:
pemunculan tanggapan-tanggapan dari keadaan di bawah-sadar (tidak disadari,
dalam keadaan latent) kedalam keadaan disadari atau dijadikan aktual dan dapat
diingat kembali.
Pada proses-proses reproduksi ini
penyebab daripada hambatannya yang terutama ialah emosi-emosi. Misalnya wujud:
rasa malu yang hebat, kecemasan kronis, rasa rendah diri, rasa takut, yang
semuanya menghambat kelancaran reproduksi dari tanggapan-tanggapan yang menghambat
pula kelancaran fungsi ingatan.
Gangguan reproduksi itu dapat
digolongkan sebagai berikut:
a)
Gangguan
terhadap reproduksi langsung atau “immediate memory”
b)
Gangguan
terhadap reproduksi dekat atau “short term memory”
c)
Gangguan
terhadap reproduksi jauh atau “long term memory” atau “remote memory”.
c.
Senilitas dan
Dementia Senilitas
Senil( latin senilis) itu artinya:
tua-renta, lisut, jompo; kekanak-kanakan. Senilitas = menjadi tua atau jompo,
gejala ketuaan.
Dementia senilitas adalah
kemunduran dan kerusakan pada “jiwa”, disebabkan oleh ktuaan dengan
tanda-tandanya kerusakan atau kemunduran fungsi intelektual, penalaran,
ingatan, dan kemauan disertai kebingungan, disorientasi terhadap lingkungan,
apathi dan stupor (kurang sadar, membisu, tidak mampu menerima perangsang dari
luar).
Dementia pra-senilitas terjadi
pada usia kurang lebih 40-50 tahun, dengan tanda-tanda: perubahan mental dan
kerusakan-kerusakan otak dari tingkat yang ringan sampai ke tingkat berat,
gangguan apbasia (tidak bisa berbicara) dan apraxia (gangguan
berbicara); juga tidak mampu melakukan kecekatan aktivitas yang sederhana.
Pada tingkat pertama dementia
pra-senilitas, kondisinya sebagai berikut: kurang daya apersepsi dan
pengertian; ada perubahan pada intelek, cepat kehilangan ingatan terhadap
peristiwa masa sekarang. Pada tingkat lanjut, gangguan-gangguan intelek dan
emosi bertambah; khususnya gangguan pada ingatan.
Dementia senilitas sesungguhnya
berlangsung pada usia kurang lebih 55-90 tahun. Simptom-simptomnya sangat
bergantung pada struktur kepribadian orang sewaktu dia belum menderita sakit,
dan bergantung pula pada sifat serta luasnya kerusakan pada otak. Terjadinya
bertingkat-tingkat, disertai kemunduran fisik dan mental secara progresif.
Pada penderita dementia
pra-senilitas dan dementia senitilas itu tidak mampu melekatkan lama-lama
pengalaman-pengalaman yag baru saja berlangsung ke dalam ingatannya. Fungsi
“remote memory” masih berjalan akan tetapi fungsi “short term memory”nya sudah
sangat teganggu atau mengalami kerusakan yang progresif. Peristiwa-peristiwa
yang baru berlangsung, tidak bisa disimpan dan tidak direprodusir kembali. (Kartini,
2010: 111)
F.
Contoh Kasus
Berpikir dan Ingatan
1.
Contoh Kasus
Berpikir
Contoh kasus
cara berpikir seorang anak:
Seorang anak
usia berusia empat tahun terjatuh dari sepedanya, lalu berkata, “Saya terjatuh
karena hari ini hari ulang tahun Hana”. Bagi kita, sudah jelas bahawa hari
ulang tahun tidak menyebabkan jatuhnya si anak, namun anak tersebut tampaknya
bependapat demikian. Tiga tahun kemudian, bila terjatuh, anak yang sama akan
mengatakan, “Saya terjatuh karena roda depan tergelincir dalam kubangan dan
saya terlempar”, jelas, anak-anak memperoleh gagasan canggih mengenai sebab
akibat yang tidak mereka pelajari di sekolah. (Alex, 2003: 204).
Contoh kasus
kedua:
Ada seorang
karyawan yang punya problem ketinggalan kenaikan pangkat. Untuk memecahkan
problem itu, ia pergi ke dukun, kemudian membakar kemenyan, puasa mati-geni dan
sebagainya. Jika demikian maka ia tidak berpikir realistis namanya. Mestinya
untuk mengatasi problem itu ia harus meneliti faktor-faktor apa yang menjadi
penghambat(realita) dan berusaha menyelesaikan apa yang belum selesai, mengisi
apa yang kosong dan melengkapi apa yang kurang.
2.
Contoh Kasus
Ingatan
Contohnya tentang hadiah terindah
dari orangtua pada saat ulang tahun ke 17. Dimana waktu itu saya lupa bahwa
besok merupakan hari special saya. Sehingga saya tak menanti-nantikan sesuatu
yang special juga pada waktu itu. Saya tidur seperti biasa kira-kira pukul
22.30. ketika pukul 24.00 lewat sedikit, saya dibangunkan oleh nyanyian Happy
Birthday dari orangtua dan yang paling mengagetkan, teman-teman saya juga ada
di kamar saya ikut menyanyikan lagu nyanyian selamat ulangtahun buat saya.
Sampai sekarang, saya masih
mengingat momen itu dimana saya terbangun dan melihat orangtua beserta
teman-teman saya. (rangsangan visual dari mata ditransfer ke thalamus yang
merupakan daerah visual dari korteks occipital). Aktifkan saraf secara singkat
mengadakan jejak yang disebut dengan register sensorik.
Contoh
kasus kedua:
Anak-anak
kecil yang sedang belajar menghafal ayat-ayat pendek al-Qur’an . mereka
menghafal sedikit demi sedikit atau dengan memotong bagian ayat dalam sekali
ucapan. Lalu mereka mengulang-ulang potongan ayat tersebut sampai hafal. Lalu
setelah hafal, mereka melanjutkan dengan potongan ayat yang lain, dan setelah
semua potongan dihafal mereka lalu menghafal secara keseluruhan. Mengelompokkan
daftar panjang tujuan untuk mempermudah pengelolaannya. Jika mempunyai banyak
daftar yang harus dilakukan mungkin akan membuat bingung, tetapijika
dikelompokkan akan lebih mudah untuk mengelolanya.
G.
Pembahasan
lainnya
1.
Bentuk-bentuk
Berpikir:
a.
Berpikir dengan
Pengalaman (Routine Thinking)
Dalam bentuk berpikir ini, kita
harus giat menghimpun berbagai pengalaman, dari berbagai pengalaman pemecahan
massalah yang kita hadapi. Kadang-kadang satu pengalaman dipercaya atau
dilengkapi oleh pengalaman-pengalaman yang lain.
b.
Berpikir
Representatif
Dengan berpikir representatif, kita
sangat bergantung pada ingatan-ingatan dan tanggapan-tanggapan saja.
Tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan tersebut kita gunakan untuk memecahkan
masalah yang kita hadapi.
c.
Berpikir
Kreatif
Dengan berpikir kreatif, kita dapat
menghasilkan sesuatu yang baru, menghasilkan penemuan-penemuan baru. Kalau
kegiatan berpikir kita untuk menghasilkan sesuatu dengan menggunakan
metode-metode yang telah dikenal maka dikatakan berpikir produktif, bukan
kreatif.
d.
Berpikir
Reproduktif
Dengan berpikir ini, kita tidak
menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi hanya sekadar memikirkan kembali dan
mencocokkan dengan sesuatu yang telah dipikirka sebelumnya.
e.
Berpikir
Rasional
Untuk menghadapi suatu situasi dan
memecahkan masalah digunakanlah cara-cara berpikir logis. Untuk berpikir ini
tidak hanya sekadar mengumpulkan pengalaman dan membanding-bandingkan hasil
berpikir yang telah ada, melainkan dengan keaktifan akal kita memecahkan
masalah.
2.
Cara
penyelidikan Ingatan:
a.
Metode
mempelajari (the learning method)
Metode ini merupakan metode untuk
menyelidiki kemampuan ingatan dengan cara melihat sampai sejauh mana waktu yang
diperlukan atau usaa yang dijalankan oleh subjek, untuk dapat menguasai materi
yang dipelajari dengan baik, misalnya dapat menimbulakn kembali materi tersebut
tnapa kesalahan.
Misalnya, seseorang disuruh
mempelajari suatu syair dan seseorang itu harus dapat menimbulkan kembali syair
itu tanpa ada kesalahan. Bila kriteria ini telah dipenuhi maka diukur waktu
yang diperlukan hingga mencapai kriteria tersebut. Ada orang yang cepat, tetapi
ada orang yang lambat dalam penguasaan materi itu. Ini berarti bahwa waktu atau
usaha yang dibutuhkan oleh subjek berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya
masing-masing.
b.
Metode
mempelajari kembali (the relearning method)
Metode ini merupkan metode yang
berbentuk dimana subjek disuruh mempelajari kembali materi yang pernah
dipelajari sampai pada suatu kriteria tertentu seperti pada mempelajari materi
tersebut pada pertama kali. Dalam “relearning” ternyata untuk mempelajari yang
kedua kalinya materi yang sama membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat
daripada waktu yang diperlukan untuk mempelajari pertama kali sampai pad suatu
kriteria tertentu. Untuk mempelajari yang ketiga kalinya dibutuhkan waktu yang
relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk
mempelajari yang kedua ataupun yang pertama kali.
c.
Metode
rekonstruksi
Metode ini merupakan metode yang
berbentuk dimana subjek disuruh mengkonstruksi kembali sesuatu materi yang diberikan
kepadanya. Dalam mengkonstruksi itu dapat diketahui waktu yang digunakan,
kesalahan-kesalahan yang diperbuat sampai pada kriteria tertentu.
d.
Metode mengenal
kembali
Metode ini digunakan dengan
mengambil bentuk dengan cara pengenalan kembali. Subjek disuruh mempelajari
sesuatu materi. Kemudian diberikan materi untuk mengetahui sampai sejauh mana
yang dapat diingat dengan bentuk pilihan benar salah, atau dengan pilihan
ganda(multiple choise). Dalam bentuk pilihan ganda dari beberapa kemungkinan jawaban
maka jawaban yang betul telah disajikan diantara beberapa kemungkinan jawaban
tersebut.
e.
Metode
mengingat kembali
Metode ini ialah mengambil bentuk
subjek disuruh mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Misalnya, dengan
menyuruh membuat karangan atau dengan cara mengisi ujian yang berbentuk esai,
ataupun isian, merupakan bentuk metode mengingat kembali.
f.
Metode asosiasi
berpasangan
Metode ini mengambil bentuk subjek
disuruh mempelajari materi secara berpasang-pasangan. Untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan dalam mengingat, dalam evaluasi salah satu padangan digunakan
sebagai stimulus, dan subjek disuruh menyebutkan atau menimbulkan kembali
pasangannya. (Abu, 2009: 77)
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Abu. 2009. Psikologi Umum. PT RINEKA CIPTA: Jakarta
Daradjat,
Zakiah. 2008. Psikologi Dakwah. Pustaka Firdana: Jakarta
Kuswana,
Wowo S. 2013. Taksonomi Berpikir. PT REMAJA BOEDAKARYA: Bandung
Kartono,
Kartini. 2010. Patologi Sosial. PT RAJAGRAFINDO PERSADA: Jakarta
Ma’udah,
Dedeh. 2015. Psikologi. Lembaga Ilmiah & Penerbitan UIN SGD: Bandung
MA,
Patty. 1982. Pengantar Psikologi Umum. USAHA NASIONAL: Surabaya
Salahuddin,
Mahfudz. 1991. Pengantar Psikologi Umum. PT Bina Ilmu: Surabaya
Sarwono,
Sarlito W. 2013. Pengantar Psikologi Umum. PT RAJAGRAFINDO PERSADA: Jakarta
Shaleh,
Abdul R. 2009. Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Prenada Media Group: Jakarta
Sobur,
Alex. 2003. Psikologi Umum. CV PUSTAKA SETIA: Bandung
Suryabrata,
Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta
Syam,
Nina W. 2011. Psikologi Sebagai Akar Ilmu Komunikasi. SIMBIOSA REKATAMA MEDIA: Bandung